Insomnia mendadak

Cerpen Keluarga #09
Mendadak Insomnia
Karya : Yoyo Setiawan

Kalian pernah dengar istilah insomnia? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBBI) :  

Insomnia ( istilah kedokteran ) adalah keadaan tidak dapat tidur karena gangguan jiwa. Bisa jadi, kalian sering mengalami, tapi tidak seperti Budi, suami Asih yang hampir tidak pernah punya keluhan kesehatan selama ini!
Sabtu malam Minggu selepas Isya, bulan Agustus yang biasanya panas. Kini suhu tidak terlalu panas, seperti ada tanda-tanda musim hujan segera datang, saat sore juga sering dihiasi mendung, sahdu.
Rutinitas Budi sebagai seorang ayah Rafif, sudah di luar kepala. Begitu jam dinding menunjukkan pukul 20:00, persiapan menidurkan anak. Menyiapkan air putih hangat sebagai pelengkap minum madu. Juga menyiapkan pispot, untuk menatur pipisnya. Setelah kedua aktivitas tersebut selesai, baru menggendong Rafif ke kamar tidurnya; bisa sendiri, bisa digotong bersama istri, Asih.
Kenapa harus digendong? Ya, Rafif menderita kelumpuhan setelah serangan kejang, panas tinggi dan koma. Itu terjadi ketika Rafif berumur 2 tahun. Berbagai pengobatan telah diupayakan, namun ujian belum diangkat Tuhan!
Itu, sedikit kilas balik, kenapa Rafif harus digendong. Ada semacam “hiburan” jiwa saat harus menggendong Rafif berdua bersama istri, penghilang lara beratnya ujian Tuhan.
Sebagai pengantar tidur, Rafif tidak menuntut macam-macam. Cukup membaca bersama doa sebelum tidur, bacaan tiga Qul dan Ayat Kursi. Seterusnya anak semata wayang akan “menthil” unik, yaitu memegang kuping ayahnya sembari memeluk. Cukup setengah jam ritual ini, akhirnya pulas tertidur.
Kebiasaan Budi setelah Rafif terbuai mimpi, ia kembali ke ruang keluarga bersama istri bercengkerama. Banyak hal yang bisa didiskusikan bersama istri yang dinikahinya 17 tahun lalu.
Istilah milenial sekarang quality-time, waktu berdua yang sangat istimewa. Tak banyak waktu bisa melakukan ini bila Rafif masih harus dalam pengawasan. Kalau saat Budi membersamai Rafif, Asih harus secepatnya menyelesaikan tugas dapur. Sebaliknya saat Asih membersamai Rafif, Budi kadang harus menggantikan Asih mengerjakan tugas rumah.
Tak banyak yang dilakukan sepasang suami-istri ini, sudah kelelahan dari sore tadi. Hanya 15 menit, Asih di depan televisi sudah sering menguap, ngantuk. Setelah Budi menjelaskan rencana besok pagi, Asih pamit ke kamar, tidur duluan.
Budi paham, ada kalanya Asih merasakan badannya nge-drop, hormon tiroid naik, suasana badan & hatinya tidak karuan, termasuk cepat mengantuk! Yang dipamiti, mengangguk, setuju. Tak lupa kecupan mesra Asih mendarat di kedua pipinya.

Budi memanfaatkan waktu buat santai barang sebentar di depan televisi. Entah berapa kali tangan kanan sibuk memegang remot, memindah-mindahkan saluran televisi. Tak satupun acara yang menarik, pikirnya.

Hatinya makin gelisah. Entah apa, Budi sendiri bingung. Budi pindah ke ruang depan, sudah gelap. Mau menyalakan lampu, takut Rafif bangun lagi, batal.
Akhirnya ia buka pintu depan perlahan, beranjak duduk di teras. Bukan ketenangan yang ia dapatkan, tapi hanya rasa dingin yang menusuk tulang. Segera Budi bangkit dari duduknya, balik badan, menuju pintu dan masuk kembali.
Uhh… Budi menarik napas panjang, ada keresahan nan membeku, entah apa penyebabnya. Ia sendiri heran, tidak seperti biasanya.


Entah kenapa, ia juga malas ke depan televisi lagi. Jadilah Budi masuk kamar tidur dengan gontai.
Didapatinya sang istri sudah tertidur pulas. Agar tertular tidur pula, Budi cepat memeluk Asih dari belakang, tidur berpelukan. Badan tergolek di kamar, pikiran entah ke mana. Hingga jarum jam menunjukkan pukul 1 dini hari, mata Budi belum juga memicing. Ada saja alasan di otaknya menolak tidur! Dari terasa punggung gatal, minta digaruk. Lalu terus berusaha diam, tak lama, terasa kandung kemihnya penuh.

Aduhai, daripada menahan semakin sakit, Budi perlahan bangun melepas pelukannya, bangkit berjalan ke kamar kecil.
Terasa agak lega sekarang, nah, saatnya tidur, pikirnya. Ternyata tidak! Apalagi ? Rasa haus menyerang tenggorokan Budi. Kembali ia keluar kamar tidur, jalan dengan lemasnya ke dapur mengambil segelas air putih. Dengan rasa kantuk, Budi minum dengan malasnya. Setelah lunas satu gelas, ia tuang lagi satu gelas penuh, dibawanya ke kamar, sediaan untuk Rafif kala tengah malam terbangun minta minum.


Apa ini yang namanya, insomnia ya? Pikir Budi. Kembali Budi masuk kamar tidur untuk yang kesekian kalinya, bukan untuk tidur kali ini, ia kembali keluar kamar. Akhirnya, gawai-lah pelampiasannya ! Ia buka platfom pencarian di internet, ia ketikkan “obat insomnia”.
Perlu beberapa detik kemudian untuk masuk ke artikel, rupanya sinyal Wi-Fi sedang lemot. Aduh, pakai lemot lagi, keluh Budi. Akhirnya muncul beberapa pilihan artikel kesehatan dari obat sampai herbal. Ada artikel buah untuk mengatasi susah tidur, ini yang aku cari, pikir Budi.


Ia menyimak dengan seksama, ada buah nanas, ceri, pisang, beri dan kiwi.
Cepat Budi ke dapur, dicarinya buah yang ada yang sesuai isi artikel tadi. Lama juga Budi harus buka-buka laci di atas dapur, membuka kulkas dan lemari makan. Nah, ketemu! Di lemari makan ada pisang. Ini dia buah yang aku cari!


Lalu diraihnya gelas, diisi bubuk kopi, krimer, sedikit gula terus dituang air panas. Setelah teraduk rata, pisang yang telah diiris-iris dimasukkan bersama seduhan kopi “aneh” tadi. Masih terlalu panas untuk diminum. Jadi Budi lanjut berpetualang di internet kembali.
Lima menit kemudian, gelas disentuhnya dengan penuh nafsu, sudah tidak panas, hangat. Dicecapnya sedikit-sedikit.

Entah Budi yang terlalu fokus di depan gawai atau ramuan itu yang tidak “mempan”, sehingga sampai sejam kemudian, tetap mata belum bertambah mengantuk. Atau ini malah bereaksi kebalikannya?
Tambah bingung lagi Budi, harus memutar otak .

Sekali lagi, ia mencari herbal apa yang khasiatnya bisa mengantar tidur. Tak lama, di gawai muncul pilihan reramuan dari rimpang jahe dan daun pandan. Perlu dicoba nih, pikirnya. Kembali Budi ke dapur, sibuk mencari bahan ramuan; jahe dan daun pandan. Dilihat di kotak bumbu dapur, ada beberapa ruas jahe, alhamdulillah ketemu. Budi ambil tiga ruas besar jahe, dicucinya dan dimasukkan ke periuk tanah, tempat biasanya Asih merebus jamu untuk ibu.


Sekarang tinggal mencari daun pandan. Mau mencari di mana malam-malam dingin seperti ini? Sempat datang rasa menyerah, aduh, mengeluh. Kenapa semua hal sekarang begitu rumit? Tapi hati kecilnya yang baik, membisikkan agar terus mencoba, mencari di mana daun pandan itu.
Budi hanya mengambil napas dalam, menghembusnya kuat-kuat. Beberapa saat, terdiam. Ya Allah, kenapa aku kacau seperti ini, besok masih ada rapat di sekolah lagi…, kedua tangan menopang dagunya, pasrah.


Ting! Tetiba terlintas di otaknya, ada tanaman pandan di pojok halaman. Alhamdulillah, ya Allah, kau tunjukkan jawabannya! Seperti gawai yang full baterainya, Budi kembali semangat. Segera ia mengambil pisau di laci dapur, bergegas buka pintu dan wuss! Angin dingin menusuk tulang kembali dirasakan di sekujur tubuh kecilnya. Ditambah ada rintik-rintik hujan semakin membuat tidak betah berlama-lama di luar rumah.

Tapi demi rasa kantuknya, ia terobos semua halangan itu. Akhirnya berhasil Budi mendapatkan beberapa lebar daun pandan. Tanaman obat yang sudah lama ditanam oleh bapak mertua sekarang terbukti sangat menolong. Budi cepat kembali ke dapur. Cekatan ia cuci bersih, dipotong kecil-kecil dan disatukan bersama potongan jahe yang sedari tadi lelah sudah menunggu. Dituangnya tiga gelas air mentah, diletakkan periuk di atas kompor, dinyalakan api, ditunggui hingga mendidih. Ia matikan kompor, lalu ia diamkan 5 menit.

Selayak koki handal, Budi menyiapkan gelas dan madu. Ia tuang air rebusan yang tersisa satu setengah gelas itu ke gelas yang sudah disiapkan, tak lupa ditambahkan sesendok madu. Ia aduk perlahan dengan mata sesekali melihat ke gawai yang ada di sebelahnya.
Wow, harumnya segera menyeruak tercium ke seluruh ruangan. Tak mau gagal kedua kali, Budi konsentrasi, benar-benar minum dengan penuh pengharapan.

Ya Allah, ampuni aku kalau berdosa, jangan siksa aku seperti ini. Bismillah, Budi duduk di kursi makan, diminumnya perlahan air rebusan herbal barunya hingga tiris, habis. Terasa hangat tenggorokan, mudah-mudahan malaikat tidur segera menghampiri.


Antisipasi terserang tidur mendadak, Budi cepat-cepat menaruh gelas bekas jamu ke tempat cucian. Ia tinggalkan dapur, segera melangkah ke kamar tidur. Ini harus berhasil, pikirnya. Esok ia harus terbangun dalam keadaan sehat, istri dan anak akan sangat kehilangan sosoknya apabila ia ambruk! Ia matikan lampu kamar, merebahkan tubuh di samping tubuh Asih yang sedang asik bermimpi, memeluknya dan berdoa sebelum memejamkan mata. Entah khasiat ramuan herbal itu, entah rasa lelahnya yang sangat, Budi akhirnya bisa masuk ke alam mimpi!


Tak sempat Budi melirik pukul berapa ia tidur, yang jelas ketika alarm berbunyi pukul 04 pagi waktu solat Subuh, ia masih pulas. Asih yang mendengar alarm berbunyi, terbangun dan mematikannya. Asih melihat Budi kasihan untuk membangunkannya. Ia raih gawai suami masih terasa panas, pertanda semalaman gawai hidup dan Budi berarti baru tertidur. Ada rasa kasihan tapi juga jengkel, punya suami keras kepala!


Sesekali bangun terlambat, tidak apa. Toh ini hari Minggu, libur! Setelah semua persiapan sarapan selesai, Asih baru masuk kamar tidur lagi. Ia bangunkan suami yang masih pulas tertidur padahal sudah pukul 6 pagi. Yang dibangunkan kaget, wajahnya cemberut dan kusut.


“Sudah membangunkan saja, masih pusing nih kepalaku!” kata Budi dengan menggosok-gosok matanya.
“Katanya ada rapat hari ini, mas” sahut Asih menggoda suaminya. Seperti disambar petir, Budi kaget, bangun cepat seperti hendak berlari. Tanpa komentar, Budi lenagkah ke luar kamar langsung menuju ke kamar mandi. Kasihan juga suamiku di-prank, pikir Asih senyum-senyum. Sehabis mandi aku jelaskan sambil minta maaf!
———————————————-&&&————————————————————-
Pagak-Malang, selepas subuh 17-09-2021

Bisa hubungi penulis di IG : @yoyo_setiawan_79

Diterbitkan oleh yoyosetiawan

Seorang guru sekolah luar biasa yang suka menulis, menulis apa saja sebagai bukti jejak kehidupan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: